Skip to main content

Empati Salah Tempat

Saya ingin sedikit mengeluh, barangkali akan berakhir banyak. atau taraf ukur sedikit banyak akan jadi berbeda. Karena segala yang subjektif adalah kebenaran bagi orang itu sendiri. Terserah saya, saya kan “Netizen”

Ya begitulah hal yang ingin saya keluhkan, sedikit bukan? Sebentar lagi mungkin jadi panjang. Doakan saja agar tidak.

Saya sadar betul bagaimana masyarakat dengan genggamannya menjadi segalanya, hanya dengan genggaman semua orang melihatnta. Zaman dahulu, untuk menatap wajah tak cukup puas dengan foto yang terbatas dengan lembaran yang jumlahnya tak seberapa. Untuk satu foto ukuran 4R saja akan mengeluarkan sejumlah uang yang setidaknya lebih baik untuk dibelikan cerutu, belum lagi selembar hvs untuk kalimat di belakangnya sebelum dikirimkan.

Zaman sekarang hanya butuh uang 5 ribu untuk pulsa dan seribu sudah dapat kuota 1 giga, bukan cuma dapat satu foto tapi bisa sampai ribuan bahkan dengan tulisan ini itu dan bebas gaya bahasa. Sudah dimanjakan, jadi tidak tahu diri, kira-kira begitu bunyinya. Membalas surat sudah tak perlu lagi capek-capek ke tukang pos atau menunggu sampai seminggu. Maka mencemooh dengan ribuan dalih jadi tidak sulit.

“Sebutlah itu kepedulian terhadap sesama manusia”

Peduli itu baik, jika pedulinya tidak merugikan dan berfaedah untuk siapapun lebih baik lagi. Dirimu sendiri tidak ingin dirugikan, maka pandanglah oranglain sebagai dirimu.

Seperti Kritis itu wajib, tapi perlu juga tahu tempat dan latar belakang kritis. Pakai otakmu sebelum jarimu.

“Terserah saya, saya kan netizen.”
cih.

Comments

Popular posts from this blog

Mencapai Merdeka Era Tekhnologi

Sepertinya sudah cukup terlambat untuk membicarakan tentang kemerdekaan. Sudah bukan nuansa yang tepat, tapi entah kenapa pikiran ini rasanya gatal jika tidsk di tumpahkan. Jadi singkat cerita, saya baru saja menyaksikan project video musikalisai puisi dalam channel Suar Aksara yang digalangi oleh Fiersa Besari dan kawan-kawan,  https://www.youtube.com/watch?v=2klfMzWZHHI&t=2s Entah kenapa hati saya tersentuh ketika menyaksikan video tersebut, seketika saya berkaca diri dengan apa saja yang sudah saya lakukan selama ini. Apa saja yang sudah saya lakukan selama ini sepertinya belumcukup untuk memerdekakan diri sendiri terlebih kepada negara saya sendiri. Berkutat dengan sosial media, menyuarakan pendapat sebagai seorang netizen, mengkritisi kehidupan, dan semakin terasa bahwa bersuara tanpa bergerak sama saja tong kosong nyaring bunyinya. apakah dengan mengkritisi kesalahan saya telah menunjukkan rasa cinta kepada negara, lalu sadar dan melupa sebayak apa keleb...