Saya ingin
sedikit mengeluh, barangkali akan berakhir banyak. atau taraf ukur
sedikit banyak akan jadi berbeda. Karena segala yang subjektif adalah
kebenaran bagi orang itu sendiri. Terserah saya, saya kan “Netizen”
Ya begitulah hal yang ingin saya keluhkan, sedikit bukan? Sebentar lagi mungkin jadi panjang. Doakan saja agar tidak.
Saya
sadar betul bagaimana masyarakat dengan genggamannya menjadi segalanya,
hanya dengan genggaman semua orang melihatnta. Zaman dahulu, untuk
menatap wajah tak cukup puas dengan foto yang terbatas dengan lembaran
yang jumlahnya tak seberapa. Untuk satu foto ukuran 4R saja akan
mengeluarkan sejumlah uang yang setidaknya lebih baik untuk dibelikan
cerutu, belum lagi selembar hvs untuk kalimat di belakangnya sebelum
dikirimkan.
Zaman
sekarang hanya butuh uang 5 ribu untuk pulsa dan seribu sudah dapat
kuota 1 giga, bukan cuma dapat satu foto tapi bisa sampai ribuan bahkan
dengan tulisan ini itu dan bebas gaya bahasa. Sudah dimanjakan, jadi
tidak tahu diri, kira-kira begitu bunyinya. Membalas surat sudah tak
perlu lagi capek-capek ke tukang pos atau menunggu sampai seminggu. Maka
mencemooh dengan ribuan dalih jadi tidak sulit.
“Sebutlah itu kepedulian terhadap sesama manusia”
Peduli
itu baik, jika pedulinya tidak merugikan dan berfaedah untuk siapapun
lebih baik lagi. Dirimu sendiri tidak ingin dirugikan, maka pandanglah
oranglain sebagai dirimu.
Seperti Kritis itu wajib, tapi perlu juga tahu tempat dan latar belakang kritis. Pakai otakmu sebelum jarimu.
“Terserah saya, saya kan netizen.”
cih.
Comments
Post a Comment